Jumat, 15 Oktober 2010

Kewirausahaan Jalan di Tempat

BANDUNG, KOMPAS - Iklim kewirausahaan di Jawa Barat lesu karena minimnya perhatian pemerintah provinsi. Tidak ada dukungan nyata terhadap pembibitan jiwa wirausaha melalui pendidikan formal. Padahal, bertambahnya jumlah pengusaha akan berdampak positif, terutama terhadap kemajuan ekonomi daerah.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Jabar Bidang Ketenagakerjaan, Sumber Daya Manusia, Pendidikan, dan Pelatihan Basit Subbahi, Senin (5/4) di Bandung, mengatakan, pengembangan jiwa kewirausahaan harus ditumbuhkan sejak dini. "Kami mendorong supaya pendidikan kewirausahaan bisa masuk pendidikan formal di SMA, setidaknya menjadi muatan lokal," ungkapnya.
Hal ini harus dijadikan terobosan untuk mengantisipasi rendahnya serapan tenaga kerja di sektor formal. Dengan demikian, lulusan SMA tak perlu risau jika tidak mendapatkan pekerjaan karena telah dibekali jiwa wirausaha yang mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.
Mengutip hasil penelitian lembaga riset asing, Basit menerangkan, dari sekitar 210 juta penduduk Indonesia, yang terlibat dalam sistem kewirausahaan baru 0,18 persen. Dia memperkirakan jumlah wirausaha di Jabar baru sekitar 0,09 persen dari 44 juta penduduk provinsi ini. Padahal, salah satu indikator negara maju ialah jumlah wirausaha setidaknya 2 persen dari jumlah penduduk.
Pada awal kepemimpinannya Gubernur Jabar Ahmad Heryawan pernah menyatakan, peningkatan partisipasi kewirausahaan sebagai salah satu program di bidang pendidikan. Heryawan berharap munculnya pengusaha sukses di Jabar akan mendongkrak sektor ekonomi. Ia pun mengimbau Dinas Pendidikan dan Kadin Jabar bersinergi merumuskan kurikulum pendidikan kewirausahaan (Kompas, 28/5/2009).
Membebani SMA
Namun, Basit mengaku Kadin belum pernah dilibatkan dalam pembahasan hal tersebut. Padahal, karena menilai positif program Gubernur kala itu, Kadin Jabar langsung menyusun modul pembelajaran materi kewirausahaan bagi sekolah menengah. "Tapi, dukungan nyata tidak ada. Akhirnya, kami terpaksa menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan secara mandiri karena menilai hal ini merupakan tanggung jawab moral kepada masyarakat," katanya.
Hingga kini telah diadakan dua kali pelatihan kewirausahaan yang diikuti sekitar 80 orang dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi. Kadin menargetkan bisa memberikan pelatihan kewirausahaan kepada 10.000 orang hingga 2014.
Saat dimintai konfirmasi, Kepala Dinas Pendidikan Jabar Wahyudin Zarkasy menjelaskan, pendidikan kewirausahaan telah dipraktikkan hampir di semua sekolah kejuruan di Jabar. Bahkan siswa SMK telah mengenal tidak hanya teori, tetapi juga berpraktik menjadi wirausaha sungguhan.
Terkait dengan permintaan Kadin untuk dilibatkan sebagai fasilitator dalam pendidikan kewirausahaan, Wahyudin berkilah, setiap SMK telah memiliki pasangan bisnis masing-masing. "Misalnya, SMK di bidang mesin punya partner industri otomotif, sedangkan SMK di bidang perawatan kecantikan bekerja sama dengan salon-salon besar. Sebab, institusi tersebut yang memberi tes praktik bagi calon-calon lulusan SMK tadi," ujarnya.
Mengenai pemikiran memasukkan mata pelajaran kewirausahaan ke dalam kurikulum SMA, ia menilai hal itu akan membebani siswa. Sebab, beban pelajaran di SMA lebih berat dibandingkan dengan SMK. "Untuk itu, kami mencari jalan keluar dengan memasukkan beberapa materi kewirausahaan ke dalam beberapa mata pelajaran yang sudah ada," katanya. (GRE)

http://edukasi.kompas.com/read/2010/04/06/12261131/Kewirausahaan.Jalan.di.Tempat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar